Sakit Kepala Ternyata Bisa Berasal dari Otot Leher – PhysioJourney

Table of Contents

nyeri leher

Bayangkan Anda duduk bekerja sejak pagi. Awalnya hanya terasa pegal ringan di area leher dan pundak. Namun semakin sore, kepala mulai terasa berat, muncul nyeri di belakang kepala, bahkan menjalar hingga sekitar pelipis atau mata. Banyak orang mengira ini hanya akibat stres, kurang tidur, atau kelelahan biasa. Padahal, dalam banyak kasus, sumber masalahnya justru berasal dari otot dan sendi leher.

Di klinik kami, kondisi seperti ini semakin sering ditemukan, terutama pada pekerja kantoran, mahasiswa, desainer, gamer, hingga pengguna gadget dengan durasi tinggi. Kebiasaan menunduk terlalu lama tanpa disadari membuat otot leher bekerja terus-menerus menopang kepala. Lama-kelamaan, otot menjadi tegang, sendi leher mengalami gangguan gerak, dan muncullah sakit kepala yang berulang.

Ketika Sumber Sakit Kepala Bukan Berasal dari Kepala

Dalam dunia medis, terdapat kondisi yang disebut cervicogenic headache, yaitu sakit kepala yang berasal dari struktur leher. Menurut The Lancet Neurology, gangguan pada area servikal atas dapat memicu nyeri kepala melalui hubungan saraf antara leher dan pusat pemrosesan nyeri di otak (Ashina et al., 2021).

Inilah alasan mengapa seseorang bisa mengalami sakit kepala meskipun masalah utamanya berada di leher. Ketegangan otot, postur kepala yang terlalu maju (forward head posture), serta kekakuan sendi leher dapat mengirimkan sinyal nyeri hingga ke area kepala.

Kondisi ini sangat berkaitan dengan gaya hidup modern. Posisi menunduk saat bermain ponsel, bekerja dengan laptop terlalu rendah, hingga duduk tanpa sandaran yang baik dapat meningkatkan tekanan pada otot leher secara signifikan. Penelitian Mahmoud et al. (2019) menunjukkan bahwa forward head posture memiliki hubungan dengan peningkatan nyeri leher dan gangguan muskuloskeletal lainnya.

Bagaimana Keluhan Ini Bisa Terjadi?

Leher bukan hanya sekadar penghubung kepala dan tubuh. Di dalamnya terdapat otot, sendi, saraf, dan jaringan penting yang bekerja menjaga stabilitas kepala. Saat posisi kepala terus berada di depan tubuh, otot leher bagian belakang dipaksa bekerja lebih keras menopang berat kepala.

Akibat beban berulang, otot seperti upper trapezius, levator scapulae, dan otot suboksipital mengalami ketegangan kronis. Pada beberapa orang, terbentuk trigger point, yaitu titik sensitif pada otot yang dapat memunculkan nyeri menjalar ke kepala.

Selain ketegangan otot, gangguan pada sendi servikal atas juga dapat mengiritasi saraf di area leher. Saraf tersebut memiliki hubungan dengan trigeminocervical nucleus, yaitu pusat saraf yang menerima sinyal nyeri dari kepala dan leher. Karena hubungan inilah, otak dapat “menerjemahkan” gangguan leher sebagai sakit kepala.

Bedanya dengan Migrain atau Vertigo

Tidak semua sakit kepala berasal dari leher. Karena itu, penting memahami beberapa perbedaannya.

Pada migrain, nyeri biasanya terasa berdenyut, sering disertai mual, sensitif terhadap cahaya, dan kadang muncul gangguan penglihatan. Sedangkan pada vertigo, keluhan utama berupa sensasi lingkungan terasa berputar.

Sementara pada sakit kepala akibat gangguan leher, keluhan sering dipicu oleh:

  • duduk terlalu lama,
  • posisi menunduk,
  • gerakan leher tertentu,
  • aktivitas kerja berkepanjangan,
  • atau postur tubuh yang buruk.

Pasien juga sering mengeluhkan:

  • leher terasa kaku,
  • pundak berat,
  • nyeri dari belakang kepala,
  • sulit menoleh,
  • dan sakit kepala yang muncul setelah aktivitas tertentu.

Menurut systematic review oleh Liang et al. (2019), gangguan fungsi otot leher dan kontrol motorik memiliki hubungan kuat dengan cervicogenic headache maupun tension-type headache.

Kenapa Keluhan Ini Sering Kambuh?

Banyak orang hanya fokus meredakan rasa sakit sementara. Obat memang dapat membantu mengurangi nyeri, tetapi sering kali belum menyelesaikan sumber masalahnya.

Jika postur tubuh tetap buruk, posisi kerja tidak diperbaiki, dan otot leher terus mengalami overload, tubuh akan kembali masuk ke pola ketegangan yang sama. Akibatnya, sakit kepala mudah kambuh meski sebelumnya sempat membaik.

Kami cukup sering menemukan pasien yang mengalami siklus berulang: sakit kepala muncul, minum obat, membaik sesaat, lalu kembali kambuh setelah bekerja atau menggunakan gadget terlalu lama.

Padahal, tanpa penanganan yang tepat, ketegangan kronis dapat memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi, produktivitas kerja, hingga aktivitas sehari-hari.

Bagaimana Fisioterapi Membantu?

Pendekatan fisioterapi tidak hanya bertujuan mengurangi nyeri, tetapi juga mencari penyebab utama mengapa keluhan terjadi.

Di klinik kami, pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh mulai dari evaluasi postur, pola gerak leher, fleksibilitas otot, kekuatan stabilisasi, hingga kebiasaan aktivitas harian pasien.

Berdasarkan guideline Journal of Orthopaedic & Sports Physical Therapy (Blanpied et al., 2017), kombinasi terapi manual, latihan terapeutik, latihan kontrol motorik leher, serta edukasi ergonomi terbukti membantu mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi tubuh.

Terapi manual membantu mengurangi kekakuan sendi dan ketegangan jaringan. Sementara latihan terapeutik bertujuan meningkatkan stabilitas otot leher dan bahu agar tubuh mampu mempertahankan postur dengan lebih efisien.

Selain itu, edukasi ergonomi menjadi bagian penting. Hal sederhana seperti tinggi layar laptop, posisi duduk, cara menopang lengan, hingga jeda peregangan saat bekerja dapat memberi perubahan besar terhadap kondisi leher.

Penelitian López-de-Uralde-Villanueva et al. (2016) menunjukkan bahwa kombinasi terapi manual dan latihan terapeutik memberikan hasil yang lebih baik dalam menurunkan intensitas nyeri dan meningkatkan fungsi pada pasien cervicogenic headache dibanding pendekatan pasif semata.

Tujuan fisioterapi bukan hanya membuat nyeri berkurang hari ini, tetapi membantu tubuh bergerak lebih optimal dan mencegah kekambuhan di masa depan.

Jangan Abaikan Sinyal dari Tubuh Anda

Sakit kepala yang muncul berulang bukan selalu karena stres atau kurang istirahat. Jika disertai leher kaku, pundak berat, atau muncul setelah aktivitas tertentu, bisa jadi tubuh sedang memberi sinyal adanya gangguan pada area leher.

Semakin cepat penyebabnya dikenali, semakin besar peluang pemulihan berlangsung lebih optimal. Penanganan sejak dini juga membantu mencegah tubuh masuk ke fase nyeri kronis yang lebih sulit ditangani.

Kami memahami bahwa setiap pasien memiliki aktivitas dan kondisi tubuh yang berbeda. Karena itu, program fisioterapi perlu disesuaikan secara personal agar hasil terapi lebih efektif dan tepat sasaran.

Jika Anda sering mengalami sakit kepala yang terasa berkaitan dengan leher atau postur tubuh, konsultasi fisioterapi dapat membantu menemukan penyebab utamanya sekaligus menentukan program penanganan yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Daftar Pustaka

  1. Ashina H, et al. (2021). Migraine and the neck: new insights from the past decade. The Lancet Neurology.
    https://doi.org/10.1016/S1474-4422(21)00193-0
  2. Blanpied PR, et al. (2017). Neck Pain: Revision 2017 Clinical Practice Guidelines. Journal of Orthopaedic & Sports Physical Therapy.
    https://doi.org/10.2519/jospt.2017.0302
  3. Liang Z, et al. (2019). Muscle dysfunction in cervical headache: implications for assessment and management. Musculoskeletal Science and Practice.
    https://doi.org/10.1016/j.msksp.2019.102050
  4. López-de-Uralde-Villanueva I, et al. (2016). Effectiveness of physical therapy in patients with cervicogenic headache: a systematic review. Cephalalgia.
    https://doi.org/10.1177/0333102415573511
  5. Mahmoud NF, et al. (2019). The relationship between forward head posture and neck pain: a systematic review and meta-analysis. Current Reviews in Musculoskeletal Medicine.
    https://doi.org/10.1007/s12178-019-09594-y 

Tinggalkan Balasan


Your Recovery Journey Starts Here

Subscribe for expert guidance, wellness tips, and exclusive updates


Suggested Reading

Reach Out Anytime

Kami Hadir untuk Membimbing Anda Menuju Pemulihan

Jangan ragu untuk menghubungi kami untuk konsultasi dan penjadwalan janji temu.

Eksplorasi konten lain dari PhysioJourney

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca